Program hamil di Spesialis Obsetric dan Ginekolog (#3)

Saat itu 7 bulan pernikahan kami dan saya tidak kunjung hamil. Sebetulnya tidak akan menjadi masalah apabila saya tinggal di tempat dimana orang-orangnya tidak terlalu kepo untuk menanyakan basa-basi tapi menusuk dengan berulang-ulang “sudah isi belum?”. Nyatanya pertanyaan itu entah mengapa bertubi-tubi menghampiriku. Kalau pertanyaan itu hanyalah single question yang tidak berlanjut pertanyaan lain seperti “si anu loo nikah 1 bulan, bulan depannya sudah telat mens” atau “si itu loo setelah nikah cepet hamilnya, kamu kok belum sih” sih saya tidak masalah. Tetapi nyatanya, pertanyaan tambahan yang penuh dengan perbandingan, sindiran sekaligus cibiranpun semakin menjadi jadi seiring bertambahnya usia pernikahan kami. Lama lama saya menjadi baper, makin baper ketika saya lihat si Anu teman seumuran saya sudah punya 2 anak, si itu yg lebih muda dari saya sudah punya 1 anak, si yang lain lagi yang menikah beberapa bulan setelah saya sudah hamil. Baper sayapun bertambah. Akhirnya kami berencana mengunjungi SPog yang praktek lumayan dekat tempat tinggal kami.
Sebetulnya kalau dipikir-pikir, 7 bulan pernikahan adalah waktu yang masih singkat untuk segera hamil. Tapi, saya curiga dengan kondisi saya. Kalau saya bandingkan dengan banyak kasus disekitar saya dimana:
1. Pasangan yang (biasanya sih belum menikah dan iseng) berhubungan badan 1x yang kebetulan saat masa subur, bisa langsung hamil.
2. Wanita yang diperkosa 1x yang mungkin kebetulan saat masa subur, bisa langsung hamil.
3. Teman-teman saya (pasangan yang tinggal satu kota) hanya butuh maksimal 4 bulan setelah menikah untuk dapat hamil.
4. Teman-teman saya (pasangan yang tidak tinggal 1 kota) butuh waktu 6 hingga 1.5 tahun setelah menikah untuk dapat hamil.
Sedangkan kami, pasangan yang tinggal di satu kota, berhubungan badan dengan sudah melakukan perhitungan masa subur, sudah menikah lebih dari 6 bulan (yang artinya sudah lebih dari 6 bulan aktif berhubungan suami istri) tetapi saya tidak kunjung hamil. Karena curiga dengan kondisi saya, kamipun berkonsultasi ke SPoG.
Dokter SPoG yang kami pilih adalah dokter yang sudah lumayan senior. Pasiennya banyak dan antrinya lama. Ketika berkunjung pertama, kami dapat nomor antrian 19 dan baru dapat berjumpa dengan dokter menjelang tengah malam. Tahapan pemeriksaan yang saya lewati adalah:
1. Test USG untuk melihat apakah ada kista dalam rahim saya. Rahim saya bersih dari kista dan kalau dilihat track periode menstruasi saya yang teratur dan tidak sakit perut yang menyiksa menjelang menstruasi, dokter tidak curiga terlalu berat terhadap rahim saya. (Malah awalnya dokter menertawakan kami yang baru menikah 7 bulan sudah terlalu kawatir dan ingin program. “Bersenang-senang sajalah dulu” kata dokternya. Tetapi kami tetap ingin mencoba program hamil tingkat awal dulu).
2. Dokter memberikan saya obat dan vitamin yang menunjang kesuburan dan kesehatan rahim. Dokter juga memberi jadwal/tanggal kami boleh dan tidak boleh berhubungan. (Pengobatan ini akan  berlangsung selama 3 bulan berturut-turut. Apabila gagal, maka akan berlanjut ke step berikutnya)
Program tahap awal yang kami lakukan berujung dengan kegagalan. Tetapi bulan ke3 dari program itu, saya sempat mengalami telat menstruasi hingga 1 bulan lamanya tetapi hasil testpack tetap negatif, hasil USG pun tidak menunjukan tanda-tanda kehamilan. Ketika itu, dokter memberikan saya obat yang berfungsi ganda yaitu sebagai menguat janin apabila memang sudah terjadi pembuahan atau sebaliknya meluruhkan memstruasi apabila memang tidak ada pembuahan. Akhirnya menstruasi saya datang di periode bulan berikutnya. Gagalnya program hamil tahap awal kami dan kami harus berlanjut ke tahap berikutnya.
Saat itu kami masih berpositif thingking dengan gagalnya program awal yang kami jalani. Program berikutnya adalah:
1. Saya harus melakukan tes HSG. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah terdapat penyumbatan pada area antara rahim menuju sel telur. Apabila ada penyumbatan, tentu saja sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur dan tidak dapat terjadi pembuahan.
2. Suami saya harus melakukan uji sperma (uji jumlah, gerak, bentuk). Test ini harus dilakukan di laboratorium fertilitas di RS.Siloam.
Setelah membuat janji dengan laboratorium yang direkomendasikan untuk test HSG, akhirnya sayapun tes HSG dengan beberapa ketentuan yang akan saya bahas di tulisan berikutnya.
Hasil gambar untuk wishing a pregnant woman

Leave a comment