Saya teringat kurang lebih 10 tahun lalu ketika kami belum saling mengenal, belum saling menyapa, belum saling mengisi apalagi saling memahami.
Saya, adalah seorang mahasiswa tahun tahun pertama sedangkan kamu adalah mahasiswa di jurusan yang berbeda 1 tahun di atas saya. Saya, terlalu opsesif dengan banyak hal, terlalu banyak berteman, terlalu aktif berbicara dan selalu dikelilingi oleh banyak kawan. Kamu, manusia pendiam yang tidak banyak bergaul, bicara seperlunya, tidak suka banyak berinteraksi dan sangat tertutup. Kamu terlalu sederhana.
Kami berjumpa dalam sebuah komunitas daerah dalam banyak kegiatan. Kami tidak terlalu akrab bahkan cenderung tidak saling menyapa apalagi saling mengenal. Kami dipertemukan secara baik-baik dalam sebuah komunitas lokal yang mengharuskan kami untuk melakukan kegiatan lapangan bersama. Hingga akhirnya kamipun saling mengenal, saling akrab dan mungkin mulai saling tertarik.
Dimataku, kala itu, kamu tidak menarik.. kamu sedikit bicara yang membuatku menilai bahwa kamu tidak cerdas. Kamu bukan orang yang menyenangkan untuk bersenang senang dan kamu tentu saja bukan tipeku. Tapi dibalik itu, kamu tenang dan berwibawa, kamu berprinsip walau kadang keras kepala, kamu tegas walau kadang cenderung egois dan kamu baik serta lembut. Yang paling penting adalah kamu sosok yang menyayangi keluargamu.
Sifat kami bertolak belakang. Saya bergejolak, kamu tenang. Saya opsesif, kamu sangat hati-hati. Saya pejuang, kamu pemimpi. Saya berani hingga bahkan cenderung kurang hati hati, kamu prediktif bahkan cenderung sangat hati hati. Saya tidak punya curiga, kamu penuh curiga. Dan masih sangat banyak perbedaan kami.
Mungkin sudah suatu jalan Tuhan bahwa perbedaan dan kebertolak belakangan ini justru menjadikan kami menyatu dan saling mengisi. Kami pacaran tanpa ada selebrasi apapun dengan kawan. Kami cenderung menutupi hubungan dekat kamu untuk menghindari kompor kompor komentar yang mungkin akan mempengaruhi kata hati kami. Hubungan kami dimantapkan dengan kata hati kami masing masing. Friksi dan kerikil dalam hubungan kami tentu saja banyak. Pemicunya beragam. Perbedaan pemikiran dan cara pandang, perbedaan latar belakang hidup dan perbedaan cara pandang kedepan sempat menjadi duri duri dalam hubungan kami. Kami menyelesaikan masalah kami berdua, tanpa ikut campur kawan maupun siapapun dengan tujuan bahwa kata hati kami dan jalan Tuhanlah yang terbaik..
Pada akhirnya, kamipun menikah setelah menjadi dekat selama hampir 5 tahun… Kami menikah setelah dengan sadarnya saya sangat mengakui kecerdasanmu, mengakui kebaikanmu, mengakui kebertanggung jawabanmu dan menyadari bahwa sifat baikmu adalah penutup sifat burukku.
Saya juga menyadari bahwa sifat penyayangmu adalah gambaran dari keluargamu… aku menikahimu sekaligus keluargamu.. begitu juga sebaliknya.